Berhenti Menjadi Ikhwah

“Kalau mau keluar dari jalan dakwah ini yah silahkan toh, kau juga sudah tau konsekuensinya, kalau tak bersama jamaah ini, kau tak kan bersama siapapun, kau siap itu?” …..”kita bagaian debu yang menempel pada dakwah ini, bersama dakwah ini tapi sebenarnya bukan bagian bersama dakwah ini”

Ini sebenarnya bukan pertama kalinya gagasan ini terlintas dipikiranku, aku ingin berhenti menjadi Ikwah, berhenti “ngaji”. namun sore ini desakan kuat itu kembali muncul dan begitu kuat hingga tanpa sadar meluncur dari lidah ini, dan parah itu terucap saat aku dan teman2 se-KGC a- sedang berkumpul bersama, duduk sambil makan di disalah satu tempat makan fovorit di belahan kota Palembang, sepertia biasa, disela2 kegiatan, entah itu kegiatan yang murni agenda Direktorat Pendidikan KGC atau agenda2 yang sifatnya insedental atau kerjasama dg lembaga lain misalnya Badan Kesbangpol atau Dinas Pendidikan.

“Lanjut Saja, kalau mau ikut jejak kakak2 yang lain sudah duluan tersadarkan akan hidup ini, Hidup ini pilihan bung. Resign dari Jalan dakwah ini juga Pilihan ”

“Ngaji memang bukan segala galanya, banyak yang tidak ngaji tapi begitu tinggi biah nya, lebih banyak hafalannya, lebih banyak amalannya. Dan tidak sedikit yang ngaji tapi masih bermain-main hati dengan perempuan, bermaksiat. Benar bung hidup ini pilihan, silahkan kalau mau berhenti ngaji. Toh dengan ngaji atau menjadi ikhwah tidak menjamin kita masuk syurga kan?”

Beragam tanggapan yang keluar dari teman2. Yah aku tahu memang hidup ini pilihan, dan menjadi ikhwah dan mengaji itu juga pilihan. Hari ini dan seterusnya aku benar2 ingin menjauh dari semua buku2, tabloid, bulletin, tulisan, taujih, tausiyah, nasihat atau apapun yang mengupas tentang mengapa seorang akh itu futur dan kemudian resign/ insilah dari jalan dakwah ini.

Apalagi buku buku positiv yang isinya adalah ajakan/seruan mengapa seorang muslim itu harus berdakwah. entah itu karangan Ust. Anis Matta, kak Salim, atau yang lain. Entah karena kejenuhan atau apa, aku ingin semua hal yang berkaitan dengan dakwah aku hapus saja dari pikiaran ini. Menurutku semua buku-buku itu terlalu idealis, sedang kan kita di Indonesia ini hidup pada kondisi yang serba tidak ideal. Teori berbeda dengan praktek, teori itu lahir dari pengalaman seseorang, yang kemudia menjadi ide besar lalu kemudian dituliskan, padahal tidak semua pengalaman seseroang itu bisa diterapkan di kehidupan orang lain.

Dampaknya luar biasa kurasa, semua buku2 yang aku baca, semua tausiyah yang ku dengar, tertolak dengan sendirinya tanpa proses lagi oleh otak ini. Kondisi ini sama persis seperti 4 tahun yang lalu saat aku mempertanyakana mengapa kiat harus bergabung di Jemaah ini, padahal banyak Jemaah islam di luar sana, ada NU dan Muhammadiyah yang dianut oleh mayoritas umat islam negri ini, ada pula Jemaah Tablih, ada juga Partai Pembebasan, lalu kenapa Jemaah ini? Apa bedanya? Pertanyaan yang menurutku kompleks dan rumit itulah yang akhirnya menyeretku menjadi Aktivis Dakwah sperti sekarang ini, dengan di Jidat tertulis kata Ikhwah, dan di pundak terbanggul Dakwah. Amat berat konsekuensinya menurutku, wajar memang jika ada yang bilang dakwah ini seperti menggengam bara di tengah malam.

Selain kondisi yang tidak ideal ini, perkembangan Jemaah yang kian hari kian berkembang menjadi Jemaah besar dan kader semakin banyak, wilayah dakwah semakin luas, tak urung membuat seorang Akh kadang merasa tak diperhatikan di Jamaah ini, merasa kebijakan yang diambil mas’ul nya tidak sesuai dengan prinsip dan keyakinananya. pola komuniksi dan pengambilan kebijakan di jamaah ini, itu yang sering kali ingin aku tanyakan?

Wajar jika kemudian lahirlah sangkaan-sangkaan, yang tak jarang ini menimbulkan friksi-friksi di dalam jamaah ini, Jika sudah begini yang bermain secara keselurahan adalah emosi, belum lagi Egoisme yang begitu besar pada diri ini mengambil alih semua sikap dan pilihan yang ada, maka aku dengan segala keakuanku, memutuskan akan mundur dari jamaah ini, berhenti mengaji dan bersedia menghilangkan gelar sebagai seorang Ikhwah, Al Akh, Ikhwan, Aktivis dakwah atau yg lain yang berkaitan dg itu, berikut amanah yang ada, semuanya ku anggap lunas.

Kemudian, berazam dalam diri, akan berfokus pada kehidupan yang ada, pada keluarga, masyarakat, dan lingkungan social. Membangun karir, berbuat kebajikan, kemudian tumbuh menjadi dewasa, menikah, bahagia, kaya raya dan bla bla bla…… tanpa beban dakwah, yang menghisap tenaga pikiran dan perasaan ini.

Tapi…

Entahlah mengapa pesona dakwah ini sungguh tak bisa ku ingkari. Ukhuwah dan kebersamaan yang ada dengan Ikhwah yang lain tak bisa serta merta kuhapus dari memory ini, Sungguh tak bisa ku ingkari bahwa dalam darah ini mengalir darah seorang Da’I yang tak bisa dipisahkan dari keseharian untuk berdakwah di bumi ini. Akan sangat menyakitkan jika mengingkari semua ini dan mengambil pilihan menjadi seorang Ama, Naif sekali jika hidup ini hanya berteman dengan sebatang rokok, sebotol minuman dan bermain hati-hati perempuan, lalu sibuk menumpuk harta dan mengejar tahta dan cinta yang semua adalah palsu belaka.

Entah, aku tak lagi ingin bernalar sekarang ini, terlalu letih untuk memikirkan semua ini. Ku akui secara perlahan aku berproses. Lalu berdamai dengan segala perasaan, sangkaan-sangkaan dan emosi yang meluap-lup dan kadang membakar ini. Aku mulai berdamai dengan segala Keegoisan ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk menyusun ulang masa depan yang indah dengan segala misterinya, yang telah disiapkan oleh sang Pembuat Hidup, dan terus bersyukur dan terus belajar memaknai hidup ini.

Memang benar jika jalan dakwah ini memang penuh onak dan duri, dengan sisi kanan dan kiri adalah jurangg, selain juga jalannya adalah tebing atau tanjakan, namun harus ingat, bahwa dibalik jalan ini adalah syurga Allah, dan itu adalah janjinya yang pasti untuk sebagai balasan setiap hamba Nya yang berjuang di Jalan ini. Jika ingin menyerah sekarang bukanlah saatnya meyerah, jika ingin mundur ini sudah terlalau jauh untuk mundur, semua sudah dekat dan terasa didepan mata, aroma syurga pun sudah tercium didepan indra.

Ah, aku jadi merindukan tulisan2 ust. Anis, kak Salim dan semua tulisan2 tentang para pejuang dakwah ini….

Mutiara, 4 April 2012

Apa yang kau pikirkan ttg gagasan ingin mundur dari jamaah ini, Al Akh?

5 thoughts on “Berhenti Menjadi Ikhwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s