Kilatan Waktu (Syair Sufi)

tak kutemukan udara dingin dan sisa kabut senja, di malam ini

grafis yang kulihat dalam satu garis memanjang luruh

gedung-degung berbaris, pijar lampu-lampu sepanjang jalan

berbeda dengan realitas internal yang ku bangun, riuh gemuruh gaduh

ritus rindu yang ditiup angin musim memanjang

“bismillah…”

kucoba membelah dingin dalam satu nafas saja

apa mungkin musim lupa pada arahnya?

bukankah seharusnya awan menumpahkan hujannya?

ku lompati kilatan waktu hingga tak kudapati lagi wujudku dalam kesadaran

yang kudapati adalah syahdu dalam huruf-huruf yang bersusun “alif, laam laam & hamzah”

“jangan pernah lupa memanjat berdo’a di setiap ujung senja!”

disana ada malaikat yang tiada henti mengaamiinkan

masih, riuh/ramai lalu/lalalng kendaraan dalam bola matamu

ketiadaan hujan, dan keberadaan bintang

“keberadaan yang satu adalah ketiadaan yang lainnya, itulah takdir bintang, pahamilah!

Jangan lagi menyebutnya kutukan, tak pantas seorang hamba membenturkan antar takdir”

masih kucuba membuat guratan gerimis kedalam matamu

pada setiap kata yang ku kirim bersama riak gelombang dalam jingga upacara senja ditepian

lupakan dulu setiap retak di sudut jalan tempat gelisah orang-orang berdiam

setelah ini usai,

kita kutemui tuhan dalam sujud yang panjang dan Lafadz Jalalah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s