Ka[Lae]doscope 15

Malam ini, masih sama seperti malam-malam sebelumnya.
diantara malam yang pekat, ego bintang-bintang karena ketiadaan hujan.
dan aku kian sadar dunia tak selebar cangkir kopi ini
entah teguk yang keberapa,
yang ku tahu makin candu sahaja pada kopi semakin kemari
tuk merayakan spasi dan hari yang tlah berlalu tanpamu
pahitnya, sama.
 
berdiskusi dengan dewi malam, karena satu alasan: “Kerja”
meski sebenarnya aku mulai ragu dengan yang aku kerjakan.
Kegamangan yang tinggi disetiap jelang akhir tahun.
Persimpangan jalan….
 
“Sudah selesai pemasangan Jaringan?”
“Internet Sudah diperbaiki?”
“Kapan Simulasi?”
“Ko, malam ini Jam 7 kito mulai begawe lagi pagar buka lah”
“Ko, Liburan sekolah pulang kan?”
“Kapan Mau Nikah?”
“Pak, BI Checking nya sudah keluar. silahkan dilengkapi berkasnya”
“Mas, Malam ini bisa kan ngajar?”
“kak Nanti aku Telpon, Jangan tidur dlu”
“Ingat. Udah desember Bro, bentar lagi udah 2016”
“Boss, kalau Jadi kabarin ye, ditunggu”
 
Huffftt, ternyata banyak yang musti ku jawab dan kuselesaikan.
Berharap bisa terus berdiri di atas bukit ini
menantang waktu dan menaklukkannya, kalau tidak
habislah kita, menjadi masa lalu, dilupakan…
 
Kadang kuberandai, jika saja terus berteman dengan hujan
padanya bersemayaman ketenanganan abstrak, rhapsody tanpa definisi
Tapi aku sadar, ada Matahari yang harus terus kukejar
menjemur hati yang basah karena ribuan luka.
 
Seringkali berfikir, bagaimana menempatkan hujan dan bintang pada tempat yang sama
sejuk aroma pertrichor, dan indah cahaya laksaan bintang.
Tapi aku paham satu hal, Bukan Egois, ketiadaan yang satu adalah kesempatan bagi yang lain
 
dan pada pekat malam, hitam kopi ini, kuhembus sebuah nafas
dan dalam nafas itu, adalah namamu….
 
Cambay Agung, 10 Des 15
Advertisements