Petrichor, Faustus dan Senja

[1}

Sore ini aroma petrichor tercium dari meja kerja ku,

Menyelinap masuk melaui celah jendela yang seharusnya rapat

Padangku melesat keluar, pohon-pohon dan rerumputan bergoyang

Ah itu angin yang basah, Palembang hujan, kau dimana?

Rasanya ingin segera pulang dan menyeduh kopi

Lalu merapal mantra pemanggi bandul waktu

Sayangnya jam pulang belum tiba,

Petrichor saja tak cukup kuat untuk melakukan itu

Kalaupun memaksanya bisa saja, namun hanya cukup untuk berlari ke masa lalu

Petrichor, Kopi, dan lembaran-lembaran kertas

Itu syarat memanggil bandul waktu sang penjelajah waktu

Setelah itu tuliskan sendiri kau ingin kemana?

Ke hari lalu atau hari depan…

 

[2]

Adzan Ashar baru saja bergema, dan mengkafirkanku

Hadiri Faustus dan curhatannya sore ini,

Bagaimana bisa manusia begitu pandai menipu Tuhan,

Bermaksiat padanya atas nama pahala?

Aku tak mejawab apapun

Ku palingkan wajah dan tubuhku darinya,

Fautus terus bercerita hingga rintik terakhir hujan sore ini

Dan aku masih saja mengingat-ingat kapan terakhir

Membaca matra hujan bersama sang Pengeja hujan

Lalu bersama-sama menjenjelajahi waktu.

[3]

Waktu tidak akan pernah tunduk kecuali kepada penantangnya….

Aku harus pulang, Faustus

Kau bisa bercerita kapan-kapan

Tapi ku harap kau tak pernah m

Tapi ku harap kau tak pernah muncul lagi saat hujan dan adzan Ashar begini
[Palembang], 30/10/2015
Petrichor pertama di di bulan Oktober…

uncul lagi saat hujan dan adzan begini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s