Dialog: Langit

Aku masih berjaga selarut ini, di beranda malam bersamasecangkir kopi, pada langit yang hampa. ada senyum manis rembulan, membuat aku lupa pada rasa pahit kopi ku yang tanpa gula, dan selalu seperti itu.
Kalau kau bertanya apa yang aku cari malam ini, tidak ada. Aku hanya sedang bercakap dengan langit, dia berkata “pada rindu yang mana lagi: hujan kau titipkan, biar kulukiskan guratannya pada komulus dan sirrus yangmenggantung di muka ku”

“tidak, aku tak ingin memikirkan apapun dan siapapun malamini”
“aku hanya ingin bercakap denganmu sahaja, Langit” ku
Kita sudah lama bersahabat,
Aku tahu yang kau lahirkan dibawah kerahasiaanmu
Aku juga mampu membaca yang sembunyikan di bawah keterus-teranganmu

“Malam ini kau akan berkisah padamu” Langit
“Soal?” tanyaaku
Faustus dan Azazil yang menangis dalam pertaubatan
Pemuja dan Sesembahan
Menari dalam pusaran dalam zikir sufi
Menanti fajar yang mengantarkan mereka pada cinta subuh

Aku belum pernah mendengar kisah itu, dalam kitab manapun
Tak serupa kisah Adam dan Hawa dalam Kitab agama-agamasamawi
Tak juga serupa kisah dalam Kitab Sastrawan pemuja Syiva abad ke tujuh
Apalagi dalam roman picisan para remaja
Yang bergenit-genit dalam kata-kata romantis
Puitis miris namun juga kadang tragis

Ya Rahman, Ya Rahim
Ya Quddus…

Faustus terus berzikir dalam tarian
memutar bertentangan arah jarum jam
pun Azazil, bersujud tanpa bangun sembari menanti subuh…

Palembang, 25 Maret 2015
Menanti Subuh bersama Kisah Langit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s