Tagged with Senja

Senja kini, Kekasihku

Senja kini, Kekasihku

Senja kini, jiwaku merindu pada Mu, Kekasihku Dari atas menara jingga ini, kuhadapkan wajahku pada Mu tiada henti kukagumi ayat Mu pada setiap sudut semesta ini   La Ilahe Illallah tiada Dzat (yang berhak disembah) selain Engkau, Kekasihku Ajari aku membaca sajak kehidupan ini tanamkan padaku taqwa pada hati dan lisan hilanglah kedustaan dan kemunafiqan … Continue reading

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

tak kutemukan udara dingin dan sisa kabut senja, di malam ini grafis yang kulihat dalam satu garis memanjang luruh gedung-degung berbaris, pijar lampu-lampu sepanjang jalan berbeda dengan realitas internal yang ku bangun, riuh gemuruh gaduh ritus rindu yang ditiup angin musim memanjang “bismillah…” kucoba membelah dingin dalam satu nafas saja apa mungkin musim lupa pada … Continue reading

Arah Angin

Arah Angin

(1) Entah siapa yang memulai: kau maujud kembali dalam gumpalan-gumpalan awan Membentuk arakan, hingga terlihat grafis harapan (2) Guratan-guratan gambar  itu Tersusun atas titik-titik air, ada sejuta: dalam sketsa wajahmu. Cayaha sesekali menyusup : meng-Interupsi! Pada harapan; yang tak lain adalah dingin angin (3) Waktu terus berjalan dengan sombongnya Tak pernah menunggu, bahkan menoleh kebelakang … Continue reading

Rin;tik

Rin;tik

Mengapa ada pada peta yang membuat garis luka di beranda? -rin; rindu;  -du; duh; -mengadu; gaduh “Peta”; “Senja” Sehabis percakapan di ujung senja, sehabis riak gelombang Aku simpan separuhnya, dan Separuhnya lagi adalah luka Aku kira arah angin takkan kembali pada musimnya: Dan biarlah kenangan selalu saja bersenandung bersama hujan Hingga basah tanah: sisa hujan … Continue reading

Sengketa San kita

Sengketa San kita

Aku hanya ingin berada disisimu Duduk,menemanimu menghitung kapal-kapal yang melintas Di tepian senja Bersama jingga dan pantul bayang pada riak air   Aku hanya ingin berada di sampingmu Berbicara tentang layang yang menghias langit kota Sepertia biasanya Sebelum senja merayu dan burung-burung kembali ke hutannya.   Malam-malam yang panjang jalan-jalan yang panjang juga perenungan yang … Continue reading

Solitude: Kita dan Senja

Solitude: Kita dan Senja

Lalu lalang orang erangan mesin tongkang petikan gitar pengamen lapak penjual mie tektek pantul jingga di riak sungai Senja segera berakhir. Kapal batu bara belum juga melintas? Ah, andai kau dsini: Berapa jumlah layangan diatas kampung di seberang itu mas? dipelukan rindu tetang mu Menghasilkan paradoks baru Jiwaku sepi padahal semesta begitu gaduh Tepi Musi, … Continue reading

Catatan di akhir/awal Musim

Catatan di akhir/awal Musim

Sayang mungkin sekarang kita mulai lupa bahwa aku dan kau /Kita pernah menjadi bintang dan hujan, yang jelas-jelas berbeda, bahkan saling meniadai tapi di fajar itu kita bertukar pindai isi hati, dan kita tahu bahwa kita masih di muka langit yang sama.. dan kini sudah lewat setengah musim bersama mu. dan katamu hujan bulan ini … Continue reading

Jangan kemana-mana, Palembang Hujan

Jangan kemana-mana, Palembang Hujan

Senja ini mendung,  dan seperti biasa di sore hari ini, seperti beberapa hari terakhir dalam beberapa bulan ini, aku masih berkutat dengan  netbook kesayangan ku, kadang mengerjakan lembar-lembar skripsi ku yang masih menyisakan beberapa berbaikan setelah sidang sarjana, satu setengah bulan yang lalu. Bedanya sore ini aku lebih tenang mengerjakannya, tidak seperti saat dikejar dateline … Continue reading

Sang Elang dan Ronim atas Kawanannya

Sang Elang dan Ronim atas Kawanannya

Tepat saat ini sang Elang duduk di puncak menara, menghadap ke arah barat, sosoknya hitam dalam bayang remang matahari menuju senja, dia sudah biasa menantang matahari tanpa kedip. walau dia memang bukan burung baik hati, kadang pengecut juga kejam, tapi dia kuat angkuh hebat setia dan berhati semulia peri. Entah apa yang ada dalam pikiran … Continue reading