Tagged with Hujan

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

tak kutemukan udara dingin dan sisa kabut senja, di malam ini grafis yang kulihat dalam satu garis memanjang luruh gedung-degung berbaris, pijar lampu-lampu sepanjang jalan berbeda dengan realitas internal yang ku bangun, riuh gemuruh gaduh ritus rindu yang ditiup angin musim memanjang “bismillah…” kucoba membelah dingin dalam satu nafas saja apa mungkin musim lupa pada … Continue reading

Arah Angin

Arah Angin

(1) Entah siapa yang memulai: kau maujud kembali dalam gumpalan-gumpalan awan Membentuk arakan, hingga terlihat grafis harapan (2) Guratan-guratan gambar  itu Tersusun atas titik-titik air, ada sejuta: dalam sketsa wajahmu. Cayaha sesekali menyusup : meng-Interupsi! Pada harapan; yang tak lain adalah dingin angin (3) Waktu terus berjalan dengan sombongnya Tak pernah menunggu, bahkan menoleh kebelakang … Continue reading

Rin;tik

Rin;tik

Mengapa ada pada peta yang membuat garis luka di beranda? -rin; rindu;  -du; duh; -mengadu; gaduh “Peta”; “Senja” Sehabis percakapan di ujung senja, sehabis riak gelombang Aku simpan separuhnya, dan Separuhnya lagi adalah luka Aku kira arah angin takkan kembali pada musimnya: Dan biarlah kenangan selalu saja bersenandung bersama hujan Hingga basah tanah: sisa hujan … Continue reading

Kuldesak

Kuldesak

Kuldesak Sudah sejak lama aku candu pada hujan dan puisi-puisi tentangnya, dan selalu ku usahakan menyelesaikan setidaknya satu bait saja, sebelum  menguapnya aroma basah tanah, setelah hujan mulai mengering. Seperti katamu,  keterlaluan sekali orang yang saat sedang hujan turun sementara diri jauh dengan kekasih yang dirinduinya tapi tak menghasilkan sebait puisi pun. Dan bukanlah kebetulan, … Continue reading

Waktu

Waktu

Kau tentu masih ingat kan kapan terakhir kali kita bertemu? Hari itu bukan hanya bertentangan mata, ah bukan hanya mata saja, tapi juga kata-kata, dan memang kita bertentangan dalam segala hal. – Entah kita sebut apa, awalan atau akhiran dari ceritera ini. Dari awal juga kita ragu satu sama lain kan? Seperti bintang dan hujan … Continue reading

Solitude: Kita dalam Benturan antara Sinkronis & Diakronis

Solitude: Kita dalam Benturan antara Sinkronis & Diakronis

dari (sebuah) titik tanpa definisi riuh (nya) mengaduh gaduh membentur dinding-dinding malam: bisu senyap dalam kesunyian   Badai itu bernama rindu gemuruhnya membuat gaduh mengoyak lapis-lapis malam menembus batas-batas langit mengetuk pintu arsy   Argh… Aku (masih) mengingatmu ya, aku mengenang mu dan aku masih berdo’a untukmu meski kita tak lagi dimuka langit yang sama … Continue reading

Ternyata, di luar masih gelap

Ternyata, di luar masih gelap

Separuh musim sudah berlalu, serparuh ego ku juga mulai menguap Yang tersisa adalah jiwa yang candu pada renungan Ini renunang terpanjang yang pernah kulewati, walau tanpa langkah panjang, nafas aspal atau debu jalan. Dan selalu saja, memvonis perasaan dengan pikiran, Kenapa sangat sulit adil sejak dalam pikiran? deretan gamang fikiran, raungan hati serta ukuran-ukuran logika … Continue reading

Catatan di akhir/awal Musim

Catatan di akhir/awal Musim

Sayang mungkin sekarang kita mulai lupa bahwa aku dan kau /Kita pernah menjadi bintang dan hujan, yang jelas-jelas berbeda, bahkan saling meniadai tapi di fajar itu kita bertukar pindai isi hati, dan kita tahu bahwa kita masih di muka langit yang sama.. dan kini sudah lewat setengah musim bersama mu. dan katamu hujan bulan ini … Continue reading

Jangan kemana-mana, Palembang Hujan

Jangan kemana-mana, Palembang Hujan

Senja ini mendung,  dan seperti biasa di sore hari ini, seperti beberapa hari terakhir dalam beberapa bulan ini, aku masih berkutat dengan  netbook kesayangan ku, kadang mengerjakan lembar-lembar skripsi ku yang masih menyisakan beberapa berbaikan setelah sidang sarjana, satu setengah bulan yang lalu. Bedanya sore ini aku lebih tenang mengerjakannya, tidak seperti saat dikejar dateline … Continue reading