Kilatan Waktu (Syair Sufi)

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

tak kutemukan udara dingin dan sisa kabut senja, di malam ini grafis yang kulihat dalam satu garis memanjang luruh gedung-degung berbaris, pijar lampu-lampu sepanjang jalan berbeda dengan realitas internal yang ku bangun, riuh gemuruh gaduh ritus rindu yang ditiup angin musim memanjang “bismillah…” kucoba membelah dingin dalam satu nafas saja apa mungkin musim lupa pada … Continue reading

Dialog: Langit

Dialog: Langit

Aku masih berjaga selarut ini, di beranda malam bersamasecangkir kopi, pada langit yang hampa. ada senyum manis rembulan, membuat aku lupa pada rasa pahit kopi ku yang tanpa gula, dan selalu seperti itu. Kalau kau bertanya apa yang aku cari malam ini, tidak ada. Aku hanya sedang bercakap dengan langit, dia berkata “pada rindu yang … Continue reading

Arah Angin

Arah Angin

(1) Entah siapa yang memulai: kau maujud kembali dalam gumpalan-gumpalan awan Membentuk arakan, hingga terlihat grafis harapan (2) Guratan-guratan gambar  itu Tersusun atas titik-titik air, ada sejuta: dalam sketsa wajahmu. Cayaha sesekali menyusup : meng-Interupsi! Pada harapan; yang tak lain adalah dingin angin (3) Waktu terus berjalan dengan sombongnya Tak pernah menunggu, bahkan menoleh kebelakang … Continue reading

Rin;tik

Rin;tik

Mengapa ada pada peta yang membuat garis luka di beranda? -rin; rindu;  -du; duh; -mengadu; gaduh “Peta”; “Senja” Sehabis percakapan di ujung senja, sehabis riak gelombang Aku simpan separuhnya, dan Separuhnya lagi adalah luka Aku kira arah angin takkan kembali pada musimnya: Dan biarlah kenangan selalu saja bersenandung bersama hujan Hingga basah tanah: sisa hujan … Continue reading

Kuldesak

Kuldesak

Kuldesak Sudah sejak lama aku candu pada hujan dan puisi-puisi tentangnya, dan selalu ku usahakan menyelesaikan setidaknya satu bait saja, sebelum  menguapnya aroma basah tanah, setelah hujan mulai mengering. Seperti katamu,  keterlaluan sekali orang yang saat sedang hujan turun sementara diri jauh dengan kekasih yang dirinduinya tapi tak menghasilkan sebait puisi pun. Dan bukanlah kebetulan, … Continue reading

Waktu

Waktu

Kau tentu masih ingat kan kapan terakhir kali kita bertemu? Hari itu bukan hanya bertentangan mata, ah bukan hanya mata saja, tapi juga kata-kata, dan memang kita bertentangan dalam segala hal. – Entah kita sebut apa, awalan atau akhiran dari ceritera ini. Dari awal juga kita ragu satu sama lain kan? Seperti bintang dan hujan … Continue reading

Kidung

Kidung

Hai, Tuan puteri bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali ya aku tak bercerita, tak keberatan kan jika kali ini aku bercerita, akan ku ceritakan tentang kerajaan kita semenjak kau pergi, iya kepergianmu yang kedua, banyak hal yang terjadi semenjak kau pergi, mengunci dirimu dalam sumpah bisu, sama seperti yang dulu, tapi bedanya kali ini kau benar-benar … Continue reading

Musim Istirah Kita

Ah, sampai kapan kita menyimpan deru angin ini? sebagai tanda kebekuan kita yang dingin. membuat spasi satu sama lain. Kau juga tahu kan: malam ini palembang hujan dan aku (masih) disini, terjebak di jalanan bersama tetes-tetes rinai yang terus bercerita dalam setiap bulirannya dingin, sama. Jika memang aku adalah lelaki penggengam hujanmu mengapa masih bertanya? … Continue reading

With{out}

With{out}

Aku t’lah terlanjur mencintai sunyiCandu akan hening dan sepiDalam gaduhnya semesta sekalipunPada riuh ramainya gelisah orang-orang punJuga pada lalu lalang pengendara di jalanan aku t’lah terlanjur menyegel suara gaduhdalam barisan mantra, puisi dan prosakubiarkan mereka yang menjeritmengaduh: riuh dan gaduhSama gaduhnya dengan suara mesin tongkang di bawah Amperalalu-lalang warga kota di pasar rakyatsorak-sorai: riuh dan … Continue reading