Filed under Puisi

Senja kini, Kekasihku

Senja kini, Kekasihku

Senja kini, jiwaku merindu pada Mu, Kekasihku Dari atas menara jingga ini, kuhadapkan wajahku pada Mu tiada henti kukagumi ayat Mu pada setiap sudut semesta ini   La Ilahe Illallah tiada Dzat (yang berhak disembah) selain Engkau, Kekasihku Ajari aku membaca sajak kehidupan ini tanamkan padaku taqwa pada hati dan lisan hilanglah kedustaan dan kemunafiqan … Continue reading

Melipat Jarak

Melipat Jarak

Aku yakin kita pernah duduk bersama, juga menikmati senja di langit yang sama. Meskipun kita kita duduk ditempat masing-masing, atau mungkin pernah berpapasan di jalan mungkin juga berteduh di tempat yang sama di kala hujan Namun, kita takkan pernah mengingat kapan semua itu terjadi Iya, karena kita masih belum mengenal satu sama lain. Kita adalah … Continue reading

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

Kilatan Waktu (Syair Sufi)

tak kutemukan udara dingin dan sisa kabut senja, di malam ini grafis yang kulihat dalam satu garis memanjang luruh gedung-degung berbaris, pijar lampu-lampu sepanjang jalan berbeda dengan realitas internal yang ku bangun, riuh gemuruh gaduh ritus rindu yang ditiup angin musim memanjang “bismillah…” kucoba membelah dingin dalam satu nafas saja apa mungkin musim lupa pada … Continue reading

Dialog: Langit

Dialog: Langit

Aku masih berjaga selarut ini, di beranda malam bersamasecangkir kopi, pada langit yang hampa. ada senyum manis rembulan, membuat aku lupa pada rasa pahit kopi ku yang tanpa gula, dan selalu seperti itu. Kalau kau bertanya apa yang aku cari malam ini, tidak ada. Aku hanya sedang bercakap dengan langit, dia berkata “pada rindu yang … Continue reading

Arah Angin

Arah Angin

(1) Entah siapa yang memulai: kau maujud kembali dalam gumpalan-gumpalan awan Membentuk arakan, hingga terlihat grafis harapan (2) Guratan-guratan gambar  itu Tersusun atas titik-titik air, ada sejuta: dalam sketsa wajahmu. Cayaha sesekali menyusup : meng-Interupsi! Pada harapan; yang tak lain adalah dingin angin (3) Waktu terus berjalan dengan sombongnya Tak pernah menunggu, bahkan menoleh kebelakang … Continue reading

Musim Istirah Kita

Ah, sampai kapan kita menyimpan deru angin ini? sebagai tanda kebekuan kita yang dingin. membuat spasi satu sama lain. Kau juga tahu kan: malam ini palembang hujan dan aku (masih) disini, terjebak di jalanan bersama tetes-tetes rinai yang terus bercerita dalam setiap bulirannya dingin, sama. Jika memang aku adalah lelaki penggengam hujanmu mengapa masih bertanya? … Continue reading

Solitude: Kita dalam Benturan antara Sinkronis & Diakronis

Solitude: Kita dalam Benturan antara Sinkronis & Diakronis

dari (sebuah) titik tanpa definisi riuh (nya) mengaduh gaduh membentur dinding-dinding malam: bisu senyap dalam kesunyian   Badai itu bernama rindu gemuruhnya membuat gaduh mengoyak lapis-lapis malam menembus batas-batas langit mengetuk pintu arsy   Argh… Aku (masih) mengingatmu ya, aku mengenang mu dan aku masih berdo’a untukmu meski kita tak lagi dimuka langit yang sama … Continue reading

Kutukan

Kutukan

Aku tak menemukanmu dimanapun Tidak pada gerimis tidak juga kabut dan pada tetes embun   Desah daun-daun menari gaduh Tak sabar dengan gaduh nya rindu ini Meskipun senyap dalam lamun semesta Hati dan pikiran ini bergemuruh Menuntut datang sapa mu   Entah kapan terakhir kita bertentangan mata Entah kapan terakhir kita bertentangan kata   Inilah … Continue reading

Langit

Langit

Seperti lingkaran kepercayaan ini aku tuliskan dalam hatinya aku bangun dalam nyawanya tapi kemudian hujan turun begitu juga angin dan kadang kala guruh menghantam jendela kaca berbingkai kayu, yang menjadikan hati dan jiwanya terbaca dan terpegang olehku hanya saja jendela itu kemudian retak oleh amukan sang kala hingga aku menemukan segalanya telah kosong menjadikan langitku … Continue reading