Filed under Cerita

Melipat Jarak

Melipat Jarak

Aku yakin kita pernah duduk bersama, juga menikmati senja di langit yang sama. Meskipun kita kita duduk ditempat masing-masing, atau mungkin pernah berpapasan di jalan mungkin juga berteduh di tempat yang sama di kala hujan Namun, kita takkan pernah mengingat kapan semua itu terjadi Iya, karena kita masih belum mengenal satu sama lain. Kita adalah … Continue reading

Arah Angin

Arah Angin

(1) Entah siapa yang memulai: kau maujud kembali dalam gumpalan-gumpalan awan Membentuk arakan, hingga terlihat grafis harapan (2) Guratan-guratan gambar  itu Tersusun atas titik-titik air, ada sejuta: dalam sketsa wajahmu. Cayaha sesekali menyusup : meng-Interupsi! Pada harapan; yang tak lain adalah dingin angin (3) Waktu terus berjalan dengan sombongnya Tak pernah menunggu, bahkan menoleh kebelakang … Continue reading

Musim Istirah Kita

Ah, sampai kapan kita menyimpan deru angin ini? sebagai tanda kebekuan kita yang dingin. membuat spasi satu sama lain. Kau juga tahu kan: malam ini palembang hujan dan aku (masih) disini, terjebak di jalanan bersama tetes-tetes rinai yang terus bercerita dalam setiap bulirannya dingin, sama. Jika memang aku adalah lelaki penggengam hujanmu mengapa masih bertanya? … Continue reading

Kutukan

Kutukan

Aku tak menemukanmu dimanapun Tidak pada gerimis tidak juga kabut dan pada tetes embun   Desah daun-daun menari gaduh Tak sabar dengan gaduh nya rindu ini Meskipun senyap dalam lamun semesta Hati dan pikiran ini bergemuruh Menuntut datang sapa mu   Entah kapan terakhir kita bertentangan mata Entah kapan terakhir kita bertentangan kata   Inilah … Continue reading

Solitude: Kita dan Senja

Solitude: Kita dan Senja

Lalu lalang orang erangan mesin tongkang petikan gitar pengamen lapak penjual mie tektek pantul jingga di riak sungai Senja segera berakhir. Kapal batu bara belum juga melintas? Ah, andai kau dsini: Berapa jumlah layangan diatas kampung di seberang itu mas? dipelukan rindu tetang mu Menghasilkan paradoks baru Jiwaku sepi padahal semesta begitu gaduh Tepi Musi, … Continue reading

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Tuan putri, Tentu kau masih ingat kan? cerita sebulan yang lalu sebelum kita berpisah dan mas memulai perjalanan lagi jauh keluar kerajaan. Tentang secangkir kopi di sore itu, “Mas, awas kopinya nanti tumpah kena baju mas’’. Lalu karena keisenganku aku cipratkan ke pakaianmu, ‘’Yahh, Kopi. Kotor dong” Lalu kau pura-pura merajuk, dan seterusnya. Itu kejadian … Continue reading

Kanal 2014

Kanal 2014

Tahun 2014 sudah berjalan lebih dari empat puluh hari, itu artinya sudah benar-benar mendekati hari-hari yang sakral buat bangsa ini, yaitu pemilu legislatif 9 April dan juga Pemilu Presiden/Wapres 9 Juli nanti. Hiruk pikuk untuk pesta lima tahunan ini sudah dimulai, bahkan lebih dari setahun yang lalu, dan kini semakin panas saja. Dijalan-jalan dimanapun baik … Continue reading

Kalaidoskop Akhir Musim kedua

Kalaidoskop Akhir Musim kedua

Tuan putri, kau tahu betapa sangat aku merindukanmu, hari ini aku ingin menceritakan sebuah kisah, tapi bukan cerita cinta cinderalla, bukan juga cerita rama shinta apalagi siti nurbaya. Ini cerita tentang pertemuan kita di hari lalu, hingga kisah cinta kita di hari ini, tentu kau masih ingat kan.   Sssstttt….   Dengarkan aku baik-baik.   … Continue reading

Ternyata, di luar masih gelap

Ternyata, di luar masih gelap

Separuh musim sudah berlalu, serparuh ego ku juga mulai menguap Yang tersisa adalah jiwa yang candu pada renungan Ini renunang terpanjang yang pernah kulewati, walau tanpa langkah panjang, nafas aspal atau debu jalan. Dan selalu saja, memvonis perasaan dengan pikiran, Kenapa sangat sulit adil sejak dalam pikiran? deretan gamang fikiran, raungan hati serta ukuran-ukuran logika … Continue reading