Kuldesak

Kuldesak

Sudah sejak lama aku candu pada hujan dan puisi-puisi tentangnya, dan selalu ku usahakan menyelesaikan setidaknya satu bait saja, sebelum  menguapnya aroma basah tanah, setelah hujan mulai mengering. Seperti katamu,  keterlaluan sekali orang yang saat sedang hujan turun sementara diri jauh dengan kekasih yang dirinduinya tapi tak menghasilkan sebait puisi pun.

Dan bukanlah kebetulan, kau juga jatuh cinta pada hal yang sama, hujan dan puisinya.

Aku mulai lupa kapan kita mulai menulis bersama di bawah hujan, semusim yang lalu? Bukan. Dua, tiga empat, ah aku benar-benar lupa kapan kita mulai menulis cerita ini, begitu aku menyadari, ternyata terlah begitu banyak kata hujan dan kerinduan yang kita tuliskan selama ini.

Padahal kau selalu bilang padaku: tentang hakekat hujan dan bintang. Ya, seperti yang kau tahu, kita memang sama-sama mencintai hujan, tapi tak sepertimu yang begitu sibuk menjaga embun sisa-sisa hujan, aku lebih memilih menghubungkan ribuan titik-titik pada bintang dan menjadikannya mozaik, sembari menanti hujan turun lagi. Bagimu, bintang dan hujan adalah paradoks terbesar, keberadaan yang satu adalah ketiadaan yang lain. Jahat sekali bintang katamu, keberadaanya adalah sebab hujan tak turun.

Dari situlah kita mulai bertentangan dalam kata, lalu bertentangan dalam hal-hal yang lain. Sampai kita akhirnya sama-sama menyadari kita bertentangan dalam segala hal, dan kita adalah paradoks itu sendiri.

Kau tentu ingat, ditepian ini? tempat kita biasa menanti matahari senja. dan betapa seringnya kau menungguku yang selalu datang terlambat  karena aku harus berkejaran dengan nafas aspal dan padatnya debu jalanan di kota ini. Aku tahu kau mencitaiku, aku bisa melihat kedalam matamu, aku paham setiap detilnya, dalam matamu seperti palung samudera. Tapi, mengapa sampai hari ini, kau masih saja meragukanku? Dan kau akan mengungkit soal bintang dan ketiadaan hujan itu. Kau cemburu padaku, dan itu membuatku cemburu padamu, tapi cemburu pada apa? Membingungkan.

Kau masih saja mempersoalkan bintang dan hujan itu.

Semusim, dua musim, tiga hingga empat musim. Kita berjalan bersama, namun karena terlalu asyik mendebat kan soal hujan dan bintang itu, kita tak menyadari satu hal, tangan kita tak lagi saling menggengam.

Hingga akhirnya datanglah kabut itu, dan akhirnya jarak dan waktu memberikan pilihan untuk kita, sehingga memaksa kita membuat spasi sama lain, dan aku benar-benar tenggelam dalam kabut, hingga tanganku benar-benar kesulitan untuk menemukanmu hatimu kembali.

****

Senja itu aku, datang ketempat biasa kita bertemu. Aku melihamu dari jarak yang tak telihat oleh matamu, Tapi kakiku membatu, rasanya seperti tersegel. Aku hanya memandangi siluetmu dalam bayang orange matahari senja yang terpantul ditepian itu.

Aku bisa merasakannya, betapa keras hidup yang kau perjuangkan sekarang, Aku mencoba melangkah kearahmu, Namun kakiku berontak dia malah berjalan kearah sebaliknya. Dan Nafas ini, aku benar-benar keropotan mengendalikannya kembali, ia memburu tak beraturan.

Masih sama saat kita bertemu pertama kali. Namun, entahlah aku merasa tertawan pada ruang dan waktu yang tak mampu kudefinisikan sendiri, dan rasanya sangat merepotkan sekali, memikirkannya. Dan aku masih tak kunjung mampu menjawab, Kapan semua itu berakhir.

****

Palembang, 16 Februari 2015

Musim kelima jatuh pada hari ini.

dan Malam ini, hujan yang sama turun kembali.

Aku tak tahu apakah angin musim sudah kembali kearahnya semula?

Kali ini aku tak mau terburu menuntukan arah angin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s