Kidung

Hai, Tuan puteri bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali ya aku tak bercerita, tak keberatan kan jika kali ini aku bercerita, akan ku ceritakan tentang kerajaan kita semenjak kau pergi, iya kepergianmu yang kedua, banyak hal yang terjadi semenjak kau pergi, mengunci dirimu dalam sumpah bisu, sama seperti yang dulu, tapi bedanya kali ini kau benar-benar menyegel dirimu dalam sepi, kau tak lagi merespon apapun dari lingkunganmu, tidak ada senyum tidak ada juga air mata, kau hanya berbaring saja dalam kesendirianmu, tapi aku tahu satu hal, kau masih bisa mendengar cerita ku kan?

Semenjak kau pergi banyak sekali yang berubah disini, semua bermula saat sang maharaja Suwaiwarman mengundurkan diri dan memilih untuk berhenti menjalankan sistem monarki dinegri kita yang sudah berlangsung selam ratusan tahun, sejak kerajaan Ayloka berdiri, bersama sang maharaja Budhiawarman yang berkuasa selama nyaris setengah abad lamanya,yang membagi masyarakat negri ini dalam tiga kasta kasta, kasta kebahagiaan, kasta kesedihan dan Kasta paling rendah yaitu kebencian. Untuk memudahkan pelayanan pada warga negri ini,

Semenjak dia mengundurkan diri, sistem perentahan disini berbeda, raja dipilih oleh dewan kerajaan yang merupakan tetua kerajaan, mereka adalah pemuka-pemuka kasta yang tertinggi

Kau tahu kan kalau aku tak begitu peduli soal kekuasaan dan konflik kepentingan kelas tinggi, aku hanya seorang seniman dan penyair, senjata kami adalah kuas dan pena. Kami berbicara dalam lukisan dan kata-kata.

Semua berawal dari sini, saat aku dan seluruh warga kerajaan dikumpulkan oleh maharaja baru, Kiraiwarman. Semua orang t’lah mempersembahkan milik terbaik mereka pada sang maharaja baru itu, Mulai dari petani dengan sayur-mayur terbaik mereka, pedagang dengan barang dagang terbaik termasuk pedangang batu cincin dengan batu akik meteor nya, juga para Sarjana, Prajurit, Seniman, dan lain-lain

Lalu terakhir tibalah giliranku

“Bumi, kami persilahkan kau untuk menunjukkan persembahan terbaikkmu pada sang maharaja” kata Sulia, penasehat raja.

Baginda, maaf jika tak berkenang, ini yang kupunya:

 

Kidung

 

Sejak saat itu, hujan yang turun di ngeri ini tak pernah lagi sama.

dalam kebisuan, keseduh secangkir kopi hitam dan pekat

untuk mengenang hadirmu, dominasimu dalam beberapa bagian dihidup ku

Diantara basah hujan dan dingin angin malam,

kusambutmalam dengan kopi tanpa gula setitikpun,

yg kupegang diantara dua setangkup tanganku.

aku sengaja…

merayakan waktu yang berlalu tanpa hadirmu, pahit sekali….

 

Akhir Musim Semi,Hari ke- 22 Bulan 12 Tahun Kasta Tunggal

 

Siapa sangka jika puisi itu justru mengubah cerita ini, Kata-kata Sulia yang masih ku ingat hingga hari ini:

“Bumi, ada baiknya mulai hari ini kau meninggalkan negri ini, baginda Kiraiwarman sangat murka, atas kata-katamu”

“kau dianggap menyebarkan ajaran terlarang disini, ajaran dari kasta yang telah dihapuskan oleh Maharaja yang merupakan Maharaja pertama yang dilipih secara demokrasi, oleh dewan Kerajaan”,

“Mungkin di masa Suwaimarman memang kau sangat istimewa karena kau pernah menyembuhkan sang putri dengan kata-kata langitmu”

“tapi seperti yang kau tahu, Kiraiwarman berbeda, dia bukan keturunan Budhiawarman, dia dipilih secara demokratis oleh Dewan Kerajaan, yang terdiri dari tetua Kerajaan ini”.

Tuan putri, semenjak Kiraiwarman berkuasa, awalnya dia menjalankan pemerintahan dengan baik, lalu dia berubah, Dia menghapuskan kasta Kedukaan dan Kebencian di negri ini, dan menghukum berat siapa saja yang terlihat menampilkan kesedihan dan kebencian, dia ingin semua orang berbahagia, seperti cita-cita pendiri kerajaan ini, Budhiawarman.

Namun aku bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan kebijakan itu,

Memang semua orang terlihat bahagia, tapi tahukah kau semua itu hanyalah kepura-puraan belaka.Merka tak sebahagia itu, semua dan senyum dan tawa di Negri ini adalah palsu, kepura-puraan semata.

Dan tahukah kau rasanya tuan puteri, hidup dalam pelarian, setelah aku membacakan puisi kidung itu, rasanya sama dengan saat pertama kai aku tahu kau telah menyegel dirimu dalam bisu yang panjang.

Bermusim-musim aku sendiri, berpindah dari satu kuil ke kuil yang lain.

Kondisi semakin mencekam, barang siapa yang dengan sengaja menebarkan kebencian dan keduaan di Negri ini akan dikenai max hukuman mati dari kerajaan dan minimal diasingkan ke Pulau terpecil, pulau kesenangan. Semua orang tahu, Pulau kesenganan itu seperti neraka, mereka bebas berbuat apasaja disana, makan minum, bersenang-senang layaknya hewan.Itu adalah penjara yang paling menakutkan bukan?

Tapi akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang memiliki nasib sepertiku, mereka yang ingin memurnikan kembali ajaran kejujuran atas kebahagiaan, kedukaan dan kebencian.Bukan hanya formalitas seperti sekarang ini, kebahagian diatas kertas, tapi dalam hati mereka adalah tangis kedukaan, mereka harus bahagia hanya karena aturan yang hanya ada satu kasta saja di negri ini.

Pertemuan pun digelar

Malam itu, aku juga para penyair, sastrawan, seniman dan semuanya yang ingin memurnikan ajaran kejujuran atas Keduakaan dan Kebencian berkumpul,

Lahirlah sejuta puisi kedukaan, Puisi kebencian, pada malam itu,

Malam itu disebut sebagai Sumpah Kidung Pemuda yang ingin membebaskan diri dari penjajahan dari Kerjaan yang mengatas namakan kebahagiaan, kasta Tunggal, Kebahagian Palsu ala raja Kiraiwarman.

Kota sangat mencekam, semua prajurit berjaga-jaga dengan ketawa dan senyum mengerikan mereka, siapa saja yang terlihat murung dan sedih akan diculik oleh kerjaan.

Dalam beberpa pekan ini, sudah semakin banyak warga yang hilang menjadi korban, tak tahu bagaimana nasib mereka setelah hilang.

Penyair, Sastrawan Seniman dan teman-teman lain anggota Forum Kedukaan yang digelar malam itu di Dwikameral, tak bisa diam lagi

Mulai malam itu kami memutuskan untuk memluai perlawanan

Revolusi

Ribuan puisi dan Lagu kedukaan yang telah ditulis malam-malam panjang sebelumnya, akan dikeluarkan malam ini,

Semua bergerak cepat, para pemantra menyirap semua prajurit kerajaan pada tengah malam saat bintang dan hujan berada dalam satu waktu,

Gerimis, miris, ritmis namun juga romantis

Dan akhirnya semua sudut kota sudah penuh dengan puisi-puisi, nyanyian-nyanyian: semuanya bertema kedukaan, Ribu Luka hati, Hati Patah arang, Kehilangan, dan Kesedihan-kesedihan lainnya yang menyanyat,

Semuanya dengan jujur menuliskan perasaan mereka, memobiliasi massa untuk membaca, bernyanyi dan bersenandung

Kepura-puaran harus dihapuskan dari muka bumi, itulah teriakan malam itu….

Kita harus mengakhiri sandiwara ini….

Namun rupanya kerajaan tak tinggal diam. Seribu prajurit dikerahkan, mereka juga membawa nyanyian-nyanyian kebahagiaan, lagu-lagu Cinta, Humor-humor dan hiburan-hiburan pun digelar,

Sungguh perang yang paling mengerikan yang terjadi malam dan siang selama beberapa hari itu

Aku melihat kelangit, Hari Ke 28 Bulan 1 di Tahun Kidung,

“Tring, prang, Arrgghh….”

Itulah bunyi peperangan, yang terjadi antara warga yang memperjuangkan kejujuran melawan Kerajaan dengan kebijakan kebahagiaan semunya.

Banyak korban berjatuhan….

Dan Aku mabuk dalam puisi tentang mu, Tuan Putri…

Palembang, 28 Januari 2015

Ah, ini kah ceracau hati yang patah arang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s