Musim Istirah Kita

Ah, sampai kapan kita menyimpan deru angin ini?
sebagai tanda kebekuan kita yang dingin.
membuat spasi satu sama lain.
Kau juga tahu kan: malam ini palembang hujan
dan aku (masih) disini, terjebak di jalanan
bersama tetes-tetes rinai yang terus bercerita
dalam setiap bulirannya
dingin, sama.

Jika memang aku adalah lelaki penggengam hujanmu
mengapa masih bertanya?
sekarang kutanya: Mana yang lebih menyedihkan
Prosa yang menceritakan dirinya sendiri
atau untai kata yang terjebak dalam makna?

Tahukah kau, bagaimana aku menghabiskan satu musim ini?
Aku bukan menunggu, aku begitu sibuk

Aku sibuk menghitungi waktu yang berlalu tanpamu
Aku sibuk menghidupi hariini
Aku sibuk menyiapkan haridepan
dan juga menyelesiakan roman dari masa (t)la(h)lu

Kalau kau tanya bagaimana rasanya Rindu
Aku sudah lupa, karena (lamanyawaktu) rindu memelukku
pada setiap dingin hujan,
pada setiap tetes embun dipergantian malam dan siang
Sampai kapan kita membuat spasi satu sama lain?
Sampai kapan kita memyimpan pundung ini?
dan Sampai kapan kita menghukumi satu sama lain?

bukanya kita t’lah berjanji, takkan saling melepaskan
di spasi paling lebar sekalipun?
Kita bukanlah musuh kan?
Kita juga bukan sang Hakim kan?

Ah, kan
Aku menceracau lagi….
Kalau kau membaca ini, pasti kau bilang
“hei, aku tak sekejam itu…”
lalu (jika) bertemu
kita akan menertawakan satu musim ini…
Musim ego, musim istirah dalam mencinta

Ya, kali ini aku takkan meminta maaf, sebagimana biasa
bukan karena ego, karena memang bukan aku kan yang salah?
“ah, dasar keras kepala, itu kan yang akan kau katakan?
Bukit Lama, 14 Desember 2014

Dibawah tetes Riani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s