Space : Backspace

Space: backspace

 

[space] : [backspace]

 

Tuan putri, kemarin-kemarin kau bertanya padaku bagian hujan yang mana yang paling ku rindukan, iya kan?

Lalu ku jawab saat kita mengeja hujan bersama, beberapa waktu lalu ditepian danau di juga di tengah perjalanan.

Namun kali ini aku akan memberitahukan mu sebuah rahasia. Memang sangat menyenangkan saat kita bersama mengeja hujan.

Namun, sekarang aku Rindu dengan pertengkaran kita? #Eh

Tapi maksudku bukan untuk mengajakmu bertengkar saat ini. Aku merindukan itu saat hidup begitu tenang dan terlalu damai seperti ini, jujur aku mulai merindukan semua itu. Bagitu itu sama menyenangkannya dengan menghabiskan hari-hari diperjalanan menjelajah daerah-daerah baru, atau kalau dirmu mungkin saat menghitung berapa jumlah kapal yang melintas di sungai musi disetiap sore. Atau mungkin saat kita bersama, berdua-duan ditepian danau atau sungai menghabiskan senja. Iya, seperti itu rasanya.

Aku rindu semua itu, saat kita bertengkar, saat kau mulai marah atau cemburu. Saat dimana kau mulai mengabaikan ku, ratusan panggilan ku tolak bahkan kadang kau alihkan, pesan ku tak satupun kau balas, apalagi chatting di media sosial. Kau mulai membisu, dan mengunci diri dalam kesendirianmu untuk menenangkan diri katamu.

Sementara aku, mulai menyibukkan diri, berkumpul dengan teman-teman, nongkrong di lapak pekmpek abah, ngobrol ngalor ngidul dengan anak-anak SMA diwarung Pakde atau berkeliling kota ini dengan motor, menyusuri jejak yang pernah kita buat. Sesekali memandang foto kita, surat cinta dan juga film pendek tentang kita yang kau buat.

Kau ingat semua itu kan?

Saat bertengkar, Kita mencoba membuat spasi satu sama lain, tapi aku tahu satu hal, dalam hatimu kau masih mencoba mencari-cari tanganku kan, berharap suatu waktu tanganku bisa kembali meraih tanganmu, dan menemukan kembali hatimu.

Kau bilang kalau beberapa bulan lalu kau boros sekali tisu, iya kan? Iya sih, kita terlalu banyak bertengkar saat itu.

Ya, kita mungkin berbeda, aku tak menghabiskan tisu, aku juga tak pernah menangis. Tapi bukan berarti aku tak sedih dan atau tak punya air mata.

Pernah ku bilang kan, kalau manusia itu baru menjadi manusia jika dia berbicara dengan manusia lainnya, dan akan saling mengerti dengan tawa dan air mata yang sama akan membuat mereka saling memahami.

Kau pernah bilang padaku, kalau perempuan tersakit itu akan membuatnya semakin cinta, dan susah untuk melepaskan. Berbeda dengan lelaki, Maaf soal itu. Aku tak pernah bermaksdu menyakiti dirimu. Karena hakekatnya menyakiti dirimu itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Sedang aku, saat tersakiti maka akan melahirkan dendam, dan mebuat sebuah lubang yang besar dihati, lubang itu akan berisi racun kebencian, dan perlahan-lahan akan membunuh seluruh organ, mulai dari hati, jantung lalu bererdar melalui vena dan cava dan mengalir keseluruh tubuh, itu yang aku takut, aku begitu takut membencimu, aku begitu takut saat lidahku pun begitu beracun karena sakit itu.

 

Sayang, bukan aku terus-terusan ingin bertengkar denganmu, sama sekali bukan. Aku hanya merindukanmu saja, baik saat sangat manis begini, ataupun saat bertengkar. Aku hanya khawatir saja jika spasi yang kita buat terlalu lebar, dan kita tidak menemukan tombol backspase untuk menghapusnya. Karena kita terlalu asyik berjalan bersama sehingga lupa tangan kita tak lagi berpeganang satu sama lain, hanya itu yang ku khawatirkan, karena itu berjanjialah, di spasi yang paling lebar sekalipun. Jangan pernah melepaskan genggamanku,

Aku pernah bilang kan kalau pertemuan dan kerinduan itu terpisah, bertemu atau tidak denganmu kerinduan itu akan tetap ada dan semakin membesar, bukan artinya pertemuan itu sia-sia bukan, tapi seperti dalam diskusi kita tempo hari, kita adalah satu nafas, kita adalah satu energi, atau sarapan utama saat bangun tidur mungkin dalam bahasamu J

Pada saat aku membuat tulisan ini, aku sedang membayangkan kebersamaan kita, seperti tempo hari, hangat pelukmu, canda tawamu, tingkah manjamu, sungguh aku tak bisa melupakan itu barang sekejap. Bahkan menjelang tidurpun aku selalu mengenang itu.

Tak usah kau takut aku meninggalkanmu, aku akan menggenggam tanganmu untuk selamanya. Iya selamanya, asal kau ijinkan itu.

April. 2014

Tahun lalu aku bersibuk dengan urusan skripsi dan wisuda, terima kasih telah hadir dikehidupanku, saat itu kau adalah satu sumber motivasiku. sekarang giliranmu skripsi. cepatlah menyusul ya. SEMANGAT !!!!

Sang penggenggam Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s