Aku atas Elegi Sikapku

Jumawa, sombong, angkuh adigang adigung dan adiguna. barangkali itu gambaran yang sering ku lihat pada bayanganku dicermin yang ku liat setiap pagi sebelum berangkat ke kampus untuk kuliah, yah minimal 4 tahun terahir. Aku sukses mengambarkan diriku sebagai sosok yang sok angkuh dan acuh, atau dalam bahasa anak kampus sengak.

Walau sebenarnya sosok itu aku ciptakan saat pertama aku memasuki gerbang kampus, dan dari situlah aku memulai nya menggambar sedikit demi sedikit karakter itu dalam diriku. Aku tahu ini bertentangan dengan nilai dan kepercayaan yang aku anut, namun aku mulai menikmatinya.

 

Namun sebenarnya yang unik bukan disitu, sisi lain dari diriku, yaitu aku yang care, peduli dan berempati ternyata terkadang berontak. Maka jadilah aku seakan-akan seorang yang sangat tidak peduli dengan sesuatu hal atau masalah, padahal dibelakang itu aku memikirkan dan bahkan sampai memimpikannya, untuk memecahkan persoalan tersebut.

 

Social Media, alat itu lah yang kadang aku gunakan untuk menyalurkan sisi lain yang tak ku tampakkan pada yang lain, petapa aku adalah seorang yang begitu peduli dan sangat bertanggung jawab.

 

Ini tentang Aku dan Neira

Aku: “Hai, Apa cerita terbaru mu?”

Dia: “ahaa abang. banyak bang, Salah satunya adalah UTS- Semester Ganjil 2011”

Aku: “ Maksimalkan proses, itulah yang akan menjadi Nilai kita dimata Rabb kita”

Dia: “Iya bang, persiapan sudah, aku tiap malam begadang teros sampai jam 1 -__-”

Aku: “Ah, Online saja dirimu, kapan nak belajar nyo?”

Dia: “belajar bang, ngerjain tugas, laporan dll, kadang-kadang jugo sih OL.

Eh bang ada yang nak ku tanyoke?

Aku: “Apo?”

krik, krik, krik (dak ado balesan)

Last message 11.53 pm

-Neira –

Ah dasar wanita, disaat kita menunjukkan sikap peduli kita tiba-tiba berubah sikap, ah biarlah toh nanti juga cerita dalam hatiku.

 

di lain hari,

Dia: Apa kabar bang?

Aku: “Alangkah membosankan dunia ni, kita adoin acara fun gathering yuk ”

Dia: “bang, dari pada mbuat acara waya-waya, foya-foya ngabiske duit, cakmano kalo kita buat gawean yang banyak manfaatnya untuk orang lain?”

Aku: “aha, sepakat.kito buat proyek peradaban bae, cakmano?”

Kita Operasi dunia ini, memindai langit dari tempat yang berbeda-beda, kita cari kebenaran sifat-sifat Nya, yang merupakan Firman Nya yang tak tertulis yang tersebar diseluruh penjuru semesta ini. hehe sok bijak dan filosofis banget yeh? Udah cocok belum kakak jadi filsuf abad modern.

Dia: “Deal bang, kita mulai dari mana? ira, pengen gunung-gunung di Nusantara ini dalam kurun 3 tahun ini, sudah lebih dari 36 nya pernah ira taklukkan”

Aku: “Waw, Great. abang suka ide itu, walau abang lebih suka dengan pantai, boleh jugo kalau suatu waktu kita lakukan bersama, kalau di plan abang, Next Journey: Suramadu, Malang, Pare Lombok, sabang, wamena. Boleh kalau nak melok :)

Neira is unavalible but you can send her message

 

Ah, lagi-lagi dak tuntas chat…. #geram

 

Tapi dari petikan obrolan diatas, sama sekali aku tak menemukan sosok jumawa yang membayangiku ikut, barang kali sosok jumawa, angkuh adigang ading adiguna itu Cuma membayagi langkah-langkahku saja. Tidak pada pena dan jentikan jari-jari ku diatas keyboard. Walau sebenarnya Nama Neira itu adalah sosok imajiner yang saya buat malam ini ditengah kegalauan ^_^ terlihat komunikasi antara Aku dan Dia disitu sangat cair, Barangkali tak tepat menamai sosok imajiner itu dengan Neira , Neira=Never I Reach, atau aku lebih suka menyingkatnya lagi dengan lema NIR, yang berarti belum seperti pada kata nirleka yang artinya belum mengenal tulisan. Tapi lagi-lagi aku terlalu malas untuk sekadar memikirkan apa yang sebenanya terjadi dalam penggalan drama imajiner diatas.

 

Malam ini sudah lewat dari tengah malam, bahkan sebentar lagi masuk fajar. Aku kalau tak bisa tidur seperti ini mumpun lagi didepan my beloved netbook, ku gunakan untuk meumpahkan kegalauankuu pada deretan keyboard. Dan al hasil jadilah tulisan ini, Elegi atas sikap ku, haha judulny terlalu berat barang kali.

Aku yaitu unsur yang merupakan kombinasi dari realitas internal dan eksterna yang ada padaku, mulai dari ruh, jasad, sifat, watak, kepercayaan, kebiasaan hingga keluarga, lingkungan, masyarakat dan bangsaku. Sedangkan Elegi yaitu syair atau nyanyian yg mengandung ratapan dan ungkapan dukacita. Sementara sikap adalah pilihan tindak-tanduk atau kelakuan yang kita ambil yang merupakan perwujan dari Nilai dan kpercayaanan yang kiya yakini.

 

Tapi apalah guna meratapi nasib, toh tak kan kembali kalau kata oang bijak, lebih baik lupakan saja, yang lalu biar berlalu besok buat baru, kata bijak yang lain.

 

Malam ini saya mencoba bernegosisasi dengan sosok itu, kalau bisa saya hendak membunuhnya secara perlahan-lahan, dengan obat yang membuatnya mati perlahan. Sosok yang begitu jumawa, angkuh dan sombong itu, toh terbukti sosok itu hanyalah bayangan yang mengikuti langkahku, dan aku bisa membuktika diatas dia bukanlah aku, kalau tak percaya tanya pada Neira, eh Neira siapa yah? Kan sosok imajiner bung? Hehe.. ^^

 

Baik, sepertiny saya harus menggunakan beberapa jurus untuk menaklukan sosok itu: Selain Jurus Low of Attraction (LOA) yang dalam hal ini saya kombinasikan dengan DOA juga jurus-jurus menghancurkan Ankor-Angkor. Ah terlalu ribet yah dengan istilah-istilah, hehe ^^

 

Mulai bro….

 

Mari kita bayangkan dirikiat dimasa depan, rasakan denga ikhlas dan semakin lama kiat akan semakin senag dan semakin senang dengan kondisi kita dimasa mendatang. Lalu semakin lama akan semakin senag rileks dan Tidur.

 

Zzz…

Tidur….

–___–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s