Filsafat Kebebasan

small_28Siluet-Ulee-Lheu2

Enggan…

Malam ini aku begitu enggan, enggan untuk melakukan apa saja, mungkin karena malam yang begitu dingin pasca palembang diguyur sejuta rintik-rintik air hujan sore tadi. Makan enggan, tidur pun enggan. Padahal sudah larut malam dan besok harus kembali mengejar matahari pagi ke kampus dan kuliah layaknya mahasiswa yang lain. Mungkin sudah muak dengan segala bualan yang disajikan oleh stasiun tv yang senantiasa mengajarkan kebohongan, mereka bilang menghibur, padahal rakyat tidak butuh hiburan, rakyat butuh kesejahteraan pangan. Murahnya biaya kesehatan dan pendidikan. dan karena keengganan menanti semua itu akhirnya ku tekan tombol merah pada remote-nya dan membuka leppi ku tercinta, aku sudah berniat tuk bersantai sambil membaca update status ber-chat ria dengan teman-teman di FB. Tapi, ah….Lagi-lagi aku enggan. Dan akhirnya kuputuskan membuat tulisan walau juga enggan…

 

Kebebasan…

Itu ide nya, sebelum melanjutkan tulisan tentang kebesan kuberikan beberapa defenisi kebebasan yang kudapat dari beberapa sumber :

Kebebasan diartikan sebagai lepas sama sekali tidak terhalang atau terganggu sehingga boleh bergerak berbicara dan berbuat dengan leluasa dengan kata yang lain lepas dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan sebagainya juga tidak dikenakan pajak atau hukuman dan tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan[1].

Kebebasan secara umum dimasukan dalam konsep dari filosofi politik dan mengenali kondisi dimana individu memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya. konsepsi liberal kebebasan berhubungan dengan kebebasan dari individual dari luar keinginan; sedangkan dalam prespektif sosialis, di sisi lain, mempertimbangkan kebebasan sebagai distribusi setara dari kekuasaan, berpendapat kalau kebebasan tanpa kesamaan jumlah ke dominasi dari yang paling berkuasa[2].

Setiap manusia menginginkan kebebasan, itu hakikatnya. Kemudian ada undang-udang yang mengaturnya, baik aturan tertulis maupun norma yang berlaku dalam masyarakat bahkan setiap agama yang dibawa oleh para nabi juga mengaturnya. Lalu bagaimana sebenarnya kebebasan itu?

Bayangkan….

Bayi yang baru lahir, itulah kebebasan yang sebenarnya. Bayi tidak dikenai aturan hukum apapun juga terbebas dari segala macam kewajiban. Namun begitu bayi itu mulai tumbuh dan melangkahkan kaki, maka dia mulai tahu bahwa ada sesuatu yang membatasinya. Yaitu dinding rumahnya, dan semakin tumbuh besar dan dewasa maka semakin banyak kebebasan yang direnggut karena begitu banyak aturan hukum dan kewajiban yang harus dipenuhi dan ditaat. Kelihatanya seperti itu, dan maka jika disimpulkan setiap manusia yang telah layak disebut sebagai manusia atau orang tidak memiliki kebebasan. Kecuali orang gila, itulah yang membuat Netzche terobsesi dengan orang gila, karena dipikirnya orang gila tidak terikat peraturan apapun, yah menyenangkan mungkin, dan akhirnya Netzche pun jadi orang gila.

Walau dalam dunia realitas tak bisa kita temukan kebebasan, namun sebenarnnya kebebasan itu tetap ada dan tumbuh dalam dua hal, yang pertama dalam alam pikiran dan yang kedua dalam filsafat atau dalam istilahnya untangible of liberation. Barangkali itulah kebebasan sebenarnya. Dalam alam pikiran, kita bisa memikirkan apa saja semau kita tanpa dikenai sangsi hukum atau tanggung jawab atas apa yang kita pikirkan, tidak peduli seberapa buruk dan jahat apa yang kita pikirkan. Kemudian yang kedua dalam berfilsafat, setiap kita tidak dilarang berfilsafat sedalam apapun sesuai dengan kesukaannya dan kedalaman keilmuan dan ketajaman pikirannya sehingga bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru.

Namun begitu apa yang kita pikirkan tersebut mencoba kita realisasikan dalam dunia sungguhan, maka disitulah repotnya. Kita dikenai tanggung jawab atas apa yang kita realisasikan. Jika kebaikan maka kita mendapat ganjaran dan jika kejahatan kita mendapat hukuman itu hukum yang berlaku dikehidupan sosial kita…

Sementara itu dalam teori kepemimpinan, barang siapa yang paling banyak mengambil kewajiban maka sebakin banyak haknya yang hilang dan semakin banyak kebebasan yang bisa diambilnya…Hakekat kepemimpian adalah tanggung jawab dan melayani, Semakin banyak tanggung jawab dan pelayanan yang kita berikan maka kita akan mendapat kan kebebasan yang juga banyak…Itu teori dasar hubungan kepemimpian dan kebebasan…

Ah rasanya semakin enggan memikirkan kebebasan ini….

Markas Edukasi, Kamis (24/03) 2011

Jam di Leppi terbaca 23:34

Ah Sudah larut malam….besok harus kuliah dan secepatnya mengurus skripsi yang sudah dua minggu tak terjamah….September 2011 Insyaallah

Salam Kebebasan berfikir dan berkreasi…!!!

Eko Budiyono (KGC Jl. Sumpah Pemuda)

—————————————————————————————-

[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 154-155

[2] Kebebasan dari Wikipedia Bahasa Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s