Mengejar Penculik Malam

Bunyi gemercik air, Bukan hujan. bukan juga suara hewan. Berdesir vena dan cava ini bersama detak jantung dan detik jam dinding yang menyatu menujuk langit. tengah malam.
“Bunyi apa gerangan”, batinku bertanya.
“srek srek” Sangat jelas bunyi itu, gesekan dua buah benda logam. Besi pikirku.
“Siapa malam-malam main asahan?”
tanda tanya semakin banyak memenuhi setiap jengkal kamar ini. bukan kamar tanpa defini. membuncah juga. penasaran menyergap pundak ku.
Tak tertahan lagi, aku keluar mendekati sumber suara itu berasal. menyusuri padang rumput yang tadinya merupakan sebuah rawa atau danau di musim penghujan. menembus beberapa baris pohon jati yang menjorok di Sungai.
“Ehem…”
terlihat jelas. sosok bayangan hitam yang memantul di tepian sungai yang memantulkan cahaya bintang, tanpa bulan.
Aku mendekat dan menyapu pandang seluruh tubuh sosok itu centi-demi centi.
“Sedang apa kau disini?”bentakku.”pulang, sudah malam”
sosok itu tetap diam sambil terus melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli kehadiran ku.
aku ulangi bentakan ku.
Tiga kali. dia bangkit dan berjalan lalu berdiri tegak luruh dua kaki didepan tegak badan ku. ditangan kanan nya memegang pisau belati yang terlihat sangat tajam. Sementara tangan kirinya memegan kain sorban.
“Ambilah bung, ini pisau mu sudah kuasahkan” jawabnya menyerahkan pisau itu padaku dalam bungkus kain sorbanya.
“Apa maksudmu?”
pertanyaanku tak terjawab. sosok itu langsung berlari menembus malam dan hilang diantara lebatnya pohon jati.
Sosok itu, bayanganku. sosok itulah yang dulu mengaku bernama elang. sosok yang sering mengasah pisau di tengah malam. Mengoyak perut bulan dan menculik malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s