Mencari Irama Takzim (Bersama Malam)

lilin3

Apa kabar jiwa, aku bertanya padamu tentang arti kerinduan yang akhir-akhir ini menari-nari disela-sela sepertiga malam-malam ku, seperti ada kepenatan dan keletihan yang menggumpal dalam hati ini yang kian lama kian membesar dan meradang, tak seperti kelelahan setelah kita melakukan perjalanan ini kawan. Tapi seperti kejenuhan menanti kapan ujung dari perjalanan ini, apakah jalan ini tak berujung atau kita dalam kesesatan yang tak nampak.

jiwa, aku bertanya padamu tentang kehidupan. Apakah benar kehidupan itu artinya dilahirkan kemudian dewasa menikah lalu tua dan mati? atau kah kehidupan seperti teather yang tokoh nya terdiri dari tokoh utama, antagonis, dan protagonis. Dimana bumi dan manusia sebagai panggung dan lakon nya. Disudut malam ini aku bertanya tentang itu. mencari definisi di sebuah sudut tanpa defini.

kawan, aku masih ingat tentang cerita-cerita sebuah negeri yang dikuasai oleh dewa-dewa durjana yang menghisap darah manusia, bagamai akhir ceritanya kawan, apakah engkau juga akan dihisap atau ikut menjadi dewa yg menghisap? Barangkali benar jika kawan ku Gie bilang orang yang paling beruntung adalah yang tidak dilahirkan. Atau dilahirkan dan mati muda. aku dan gie memang terpisah oleh dimensi ruang dan waktu yang panjang. Tapi kesukaannya pada kesendirian, sepertinya aku paham. Karena hanya kolerik melankolik lah yang paham dengan kolerik melankolik yang lain.

aku juga sadar, aku telah gagal berasimilasi dengan lingkungan sosialku yang telah tercemar, tercemar oleh paham kapitalisme sebagai mazhab kehidupan dan juga agama yg membuat manusia lupa bahwa dunianya telah dikuasai setan dan dewa-dewa yang durja. Pantaslah jika Marx bilang agama adalah candu. Karena agama hanya alat untuk mencapai kekuasaan menjadi pemuas hawa nafsu.

panjang aku menelusuri jalan ini, ada rumput yg akarnya menghujam ditanah, ada pohon yang berbaris rapi seperti prajurit hendak berperang. Atau sungai yang gelombang-gelombangnya menggoyangkan kapal para pedang di pinggir kali lilin ini.

jadi teringat ketika aku masih punya hati dan jiwa yang lain dulu, aku memikirkannya setiap saat seperti aku mabuk oleh sebotol anggur ditengah malam. Badanku panas tapi aku ringan dan melayang. Nikmat sekali.

kini, bersama degan teman-teman ku yang merasa perlu merampas negeri ini dari dewa-dewa durjana dan setan. Aku tak pernah merasa senikmat itu, hanya kelelahan yang terus menguntit di pundak ini. Bahkan malam-malam ku yang biasanya takzim dengan rakaat dan lantun do’a terasa begitu berat dan menyiksa. Tak nikmat.

kawan, jika aku memutuskan berpisah dgn jiwa ini. Akankah semuanya kembali nikmat, akankah perseteruan kita di bawah rindang pohon, di meja-meja sidang, di warung di pustaka akan terasa nikmat. Dan tak ada lagi niatan busuk untuk saling mengkerdilkan atau menghujat orang lain.

tadi malam aku ber jaulah bersama jarum jam dinding rumah ini. Aku menemukan mu, kawan, dalam kondisi mabuk dan berjuta hayalan. Akan kah besok bisa makan ayam sambil memandangi kolam yang kini tanpa ikan, atau punya sebuah mobil mewah dan istri cantik yang setia. Hahaha, semakin tak karuan saja kawan.

sudah lupa cerita tentang negeri yang banyak memperjualbelikan budak? Atau dongen negeri adil sejahtera? Sudah ah, lupakan saja, aku mau meneguk habis anggurku, aku mau terbang kekhayangan dan mengintip gadis-gadis ku yang sedang mandi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s